Tiga Prediksi Lokasi Ibu Kota Baru di Kalimantan Timur

by -1,330 views

Bila Presiden Joko Widodo memutuskan ibu kota negara di Provinsi Kalimantan Timur , diprediksi ibu kota negara akan ada di tiga wilayah, yaitu Samboja di Kabupaten Kutai Kartanegara, Sepaku, dan Penajam di Kabupaten Penajam Paser Utara. Alasannya, karena dekat Balikpapan. “Lokasi calon ibu kota sudah ditentukan di Kaltim, tetapi belum diputuskan,” kata Ketua Pusat Kajian Perencanaan Pembangunan dan Keuangan Daerah (PKPPKD) Universitas Mulawarman Samarinda, Dr Aji Sofyan Effendi di Samarinda, Sabtu. Antara. Ia meyakini, tim pusat akan memilih salah satu dari tiga lokasi ini.

Bahkan, bisa jadi ketiganya untuk pengembangan karena masing-masing-masing-masingnya merupakan kawasan strategis dan memiliki keunggulan antara lain lahan luas, aman, dan jauh dari pemukiman. Dia menambahkan, seandainya ibu kota kemudian diputuskan di Samboja, lalu kawasan Sepaku-Penajam tetap diuntungkan karena akan menjadi daerah penyangga. Bahkan, untuk pemukiman pegawai, diperkirakan 1,5 juta jiwa juga lebih tepat diarahkan ke Kabupaten Penajam Paser Utara. Jika memang untuk perumahan yang mengarah ke Penajam, lanjutnya, maka Penajam Paser Utara akan diuntungkan dalam banyak hal. Penyebab, ada percepatan pembangunan infrastruktur yang dimulai dari penyelesaian pembangunan Jembatan Pulau Balang untuk menghubungkan Balikpapan-Penajam. “Total anggaran yang akan dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur awal persiapan ibu kota baru ini kan Rp 466 triliun tahun lalu jamak yang pembangunannya dimulai dari tahun 2021. Anggaran awal yang akan dikeluarkan meningkat Rp50 triliun. Itu salah bisa untuk Jembatan Pulau Balang,” ucap Aji.

Sementara itu, berdasarkan dokumen rencana pemindahan ibu kota Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia / Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN / Bappenas), dipilihnya Kaltim menjadi ibu kota baru karena memiliki berbagai keunggulan. Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman di Balikpapan kemudian Bandara Internasional Aji Pangeran Tumenggung Pranoto di Kota Samarinda. Selanjutnya, terdapat jalan tol Balikpapan-Samarinda, memiliki Pelabuhan Semayang, infrastruktur jaringan energi dan air bersih, struktur demografi heterogen atau sebagian besar penduduknya merupakan pendatang yang tentu saja lebih terbuka diakses dan menerima perubahan, lalu masuk Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II. “Atas berbagai keunggulan ini, maka lokasi ibu kota tidak jauh dari tiga kawasan yang saya maksudkan sebelumnya. Setelah ibu kota benar-benar pindah, maka infrastruktur dasar akan terpenuhi yang pada akhirnya akan menambah rasio modal tambahan (icor) alias produksi, konsumsi dan distribusi barang / jasa mengecil sehingga mampu meningkatkan investasi, “ucap Aji. Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur telah menyiapkan draf Peraturan Gubernur (Pergub) tentang Penataan Kawasan Khusus Non Komersial di ibu kota negara, Bukit Soeharto. Kurang lebih 200 ribu hektar di kawasan itu sudah siap. Lahan itu menjurus ke sisi timur Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dan sisi barat Kabupaten Kutai Kertanegara, termasuk luas Taman Hutan Raya Bukit Soeharto 64.814,98 hektar. Lewat Pergub, luasan tanah tersebut tak bisa diperjualbelikan oleh diminta. Alasan, semua kawasan adalah tanah milik negara. “Kami akan teken, jadi lokasi pasti ditentukan Presiden,” ungkap Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor, Kamis (22/8/2019) saat ditemui awak media di kediamannya, Jalan Adipura, Samarinda. Isran mengatakan, Draf Pergub sudah ada. Namun, belum dicantumkan lokasi. “Segera diumumkan, kami tinggal memasukkan titik koordinat,” kata Isran lagi. Jika luasan tanah tersebut ditemukan tumpang tindih dengan izin tambang batu bara atau perkebunan, maka menunggu izin selesai. Tak akan diperpanjang lagi. Israning, semua kawasan yang ada di Bukit Soeharto adalah milik negara. Jika ada warga yang bermukim di sana, pilih kembali atau tetap pilih ditata kembali.