Soal Fakta di Balik Film G 30 S PKI, Amoroso Katamsi Pemeran Soeharto Sebut Ada Perbedaan Pendapat

by -1,295 views

 

Esok hari, bangsa ini berkabung memperingati gugurnya korban Gerakan 30 September atau G 30 S PKI (Partai Komunis Indonesia).

Seperti di ketahui sebelumnya untuk memperingati peristiwa kelam Gerakan 30 September atau G 30 S PKI itu rakyat Indonesia kerap kali menonton Film G 30 S PKI tersebut.

Ada sejumlah fakta terkait Film G-30 S PKI yang mungkin banyak menimbulkan perdebatan karena perbedaan pendapat.

Salah satu faktanya datang dari pengakuan Amoroso Katamsi pemeran Soeharto dalam film tersebut

Dilansir dari Tribun Jabar dalam artikel ‘Amoroso Katamsi, Pemeran Soeharto Pernah Beberkan Kesalahan yang Terjadi dalam Film G 30S PKI, berikut beberapa fakta tentang Film G 30 S PKI menurut Amoroso Katamsi.

1. Pemain cadangan

Amoroso Katamsi usianya masih 43 tahun saat ia memerankan Soeharto.

Amoroso Katamsi mengaku tidak pernah membayangkan akan terlibat di film yang menggambarkan peristiwa yang dilakukan oleh PKI ini.

Film yang disutradarai Arifin C Noer ini mengisahkan peristiwa berdarah penculikan petinggi angkatan darat.

Namun ternyata, Amoroso Katamsi bukan pilihan pertama Arifin C Noer.

Ia hanya menjadi cadangan karena Arifin C Noer ingin mencari aktor yang lebih mirip wajahnya dengan Soeharto.

2. Bukan film sembarangan

Amoroso Katamsi mengatakan film ini bukanlah film sembarangan.

Ia juga membeberkan alasan ingin memerankan ‘The Smiling General’.

Menurutnya, sebagai aktor memerankan Soeharto adalah hal yang menantang.

Selain itu, Amoroso Katamsi juga pernah merasakan saat masih menjadi mahasiswa organisasinya dipecah belah oleh PKI.

Amoroso Katamsi muda tergabung di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

3. Perbedaan pendapat

Ada satu perbedaan pendapat dalam Film G 30 S PKI

Amoroso Katamsi membeberkan kisah yang terkandung dalam Film G 30 S PKI tidak ada yang salah kecuali penggambaran D N Aidit.

Pada film tersebut, D N Aidit digambarkan merokok.

Amoroso Katamsi juga mengatakan informasi mengenai peristiwa di Lubang Buaya paling sedikit.

Hal ini membuat Arifin C Noer membentuk tim riset kecil untuk membuat adegan-adegan yang ada.

Mengenai D N Aidit yang merokok, ternyata tidak dibenarkan oleh anaknya, Ilham Aidit.

Namun, majalah Intisari yang terbit pada Maret 1964 berisi keterangan yang sebaliknya.

Intisari yang melakukan wawancara dengan D N Aidit selama dua jam itu menerangkan bahwa tokoh PKI tersebut banyak minum, merokok, dan menikmati secangkir kopi pahit.

Perwira TNI yang menjadi eksekutor Aidit bercerita saat penangkapan Aidit di Solo.

Ada puntung rokok yang sempat dinikmatinya.

Sebelum dieksekusi mati, Aidit juga sempat meminta rokok kepada petugas pemeriksa.

Sekadar informasi, Film G 30 S PKI merupakan film bergenre dokudrama yang berisi propaganda Indonesia tahun 1984.

Film G 30 S PKI dibuat dengan detail dan meyakinkan berdasarkan sudut pandang tertentu.

Menurut sejarahnya, film ini awalnya berjudul SOB (Sejarah Orde Baru).

Film berdurasi lebih dari 200 menit ini menjadi film terlaris di Jakarta pada 1984 dengan 699.282 penonton menurut data Perfin.

Hingga 1995, jumlah penonton tersebut menjadi rekor tersendiri dan tidak terpecahkan.

Naskah film ini ditulis oleh Arifin C Noer dan Nugroho Notosusanto, diproduksi melalui PPFN (Pusat Produksi Film Negara).

Yakni lembaga yang bertanggung jawab memproduksi film-film propaganda politik rezim Orde Baru.

Bahkan film ini sempat diwajibkan tayang setiap tanggal 30 September malam oleh satu-satunya stasiun televisi Indonesia saat itu, yaitu TVRI.

Film G-30 S PKI mengisahkan peristiwa kudeta seputar 30 September 1965 yang dilakukan oleh Kolonel Untung, Komandan Batalyon Cakrabirawa.

Film G-30-S PKI diceritakan menjadi dua bagian.

Pertama, Film G-30 S PKI berlatar belakang peristiwa, rencana kudeta, serta penculikan para jenderal.

Dalam peristiwa ini, 7 jenderal terbunuh, salah satunya adalah Brigadir Jenderal Donald Isaac Pandjaitan.

30 September 1965, sekelompok tentara mengepung sebuah rumah di Jalan Hasanuddin 53, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Mereka membawa senjata laras panjang pada pengepungan malam itu.

Sang pemilik rumah, seorang perwira TNI Angkatan Darat yang saat itu sedang berada di sebuah kamar di lantai 2 terlihat tidak panik.

Dengan mengenakan seragam militer lengkap, Brigadir Jenderal Donald Isaac Pandjaitan berkaca ke sebuah cermin di lemari besar.

Beberapa kali ia merapikan seragamnya agar tidak terlihat kusut.

Tentara sudah mulai masuk dan menguasai lantai satu rumah.

Tembakan pun dilepaskan.

Beberapa perabot rumah jadi sasaran tembakan.

Istri dan anak DI Pandjaitan yang juga berada di lantai 2 semakin ketakutan.

Seorang asisten rumah tangga melaporkan bahwa 2 keponakan DI Pandjaitan berada di lantai satu, yaitu Albert dan Viktor terkena tembakan.

Namun DI Pandjaitan tetap tenang.

Pandjaitan kemudian turun ke lantai 1 yang dikuasai oleh para tentara dengan langkah perlahan.

Pasukan tentara yang mengepung rumah Pandjaitan disebut berasal dari satuan Cakrabirawa, pasukan khusus pengawal Presiden Soekarno.

Saat sudah berada di hadapan para tentara, Pandjaitan diminta untuk segera naik ke truk yang akan mengantarkannya ke Istana.

Mereka mengatakan bahwa Jenderal berbintang satu itu dipanggil oleh Presiden Soekarno karena kondisi darurat.

Sebelum itu Pandjaitan menyempatkan diri untuk berdoa yang menyebabkan para tentara semakin marah.

Seorang tentara memukulkan popor sentaja, tapi oleh Pandjaitan ditepis sebelum menghantam wajahnya.

Tentara yang lain marah.

Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat itu ditembak.

DI Pandjaitan pun tewas.

Jenazah Pandjaitan kemudian dimasukkan dalam truk dan dibawa pergi.

Darah dari pria kelahiran Balige, Sumatera Utara itu berceceran di teras rumah.

Penembakan itu disaksikan oleh putri sulungnya, Catherine.

Setelah gerombolan tentara pergi, ia mendatangi tempat ayahnya ditembak.

Catherine memegang darah ayahnya dengan penuh haru dan mengusapkannya ke wajah.

Itulah salah satu adegan dalam film Penumpasan Pengkhiatan G30S PKI.

Bagian kedua film mengisahkan tentang penumpasan pemberontakan

Daftar pemain Film G-30 S PKI

1. Bram Adrianto sebagai Kol. Untung (Colonel Untung)
2. Amoroso Katamsi sebagai Mayjen Soeharto (Mayor Jenderal Soeharto)
3. Umar Kayam sebagai Presiden Soekarno
4. Syubah Asa 5. Ade Irawan
6. Sofia (Sofia WD)
7. Dani Marsuni
8. Yeyet Hasan
9. Harto Kawel
10. Charlie Sahetapy
11. Pramana PMD
12. Kies Slamet
13. Wawan Sarwani
14. Doddy Sukma
15. Chaidar Djafar
16. Keke Tumbuan sebagai Ade Irma Suryani