Polisi Tembak Polisi dan Catatan untuk Aparat

by -1,946 views
Polisi Tembak Polisi dan Catatan untuk Aparat
Polisi Tembak Polisi dan Catatan untuk Aparat

Beritadalam.com ,Jakarta – Kasus polisi mengeluarkan senjata api hingga kerusakannya orang lain kembali terjadi. Kali ini, kasusnya adalah seorang polisi menembak polisi lainnya di Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Brigadir RT menembakkan 7 butir peluru ke tubuh rekannya, Bripka RE, hingga tewas di tempat, Kamis (25/7/2019). Tindakan ini dilakukan RT karena tersulut dalam pengambilan keputusan yang telah diucapkan RE sebelum kejadian. Peristiwa aparat menyalahgunakan senjatanya untuk keperluan di luar tugas pernah beberapa kali terjadi. Pada 14 Juli 2019, seorang anggota polisi di Aceh Singkil yang menembak seorang pemuda hingga tewas saat menyaksikan organ tunggal.

Menurut Psikolog Forensik Klinis Adityana Kasandra Putranto, acara ini menunjukkan kapasitas mental yang berwenang dalam kondisi tidak stabil. Ia mengatakan, harus dilakukan pemeriksaan mental terhadap aparat yang dipersenjatai. “Berkompetensi mental individu yang memiliki kompetensi untuk menyimpan dan menggunakan senjata api” Jelas enggak ada kok cek periodik, ”kata Kasandra saat dihubungi Kompas.com , Jumat (26/7/2019). Selain itu, Kasandra juga menyebut sistem dan kebijakan di Indonesia terkait pengawasan senjata api masih lemah.


Dua hal ini yang membuat tembakan ulang senjata oleh aparat masih berulang. “Kekuatan yang besar mendatangkan tanggung jawab yang lebih besar,” ujar dia. Kasandra mengatakan, pemeriksaan kesehatan mental para petugas penting dilakukan secara teratur agar kondisi psikologisnya terus terpantau. Dengan demikian, akan diketahui apakah ada seseorang yang masih berhak mempercayakan senjata atau tidak dalam menjalankan tugasnya.


Proses kerja otak yang memicu tindak kekerasan Seperti diberitakan Kompas.com mengutip Percakapan , di dalam otak manusia terdapat 2 bagian yang masing-masing diberikan rasa takut dan nafsu. Dua bagian itu adalah amigdala dan hipotalamus yang membuat manusia mampu bertahan. Dalam keadaan menantang dan menantang, amigdala akan membangkitkan rasa takut yang kemudian mengaktifkan bagian hipotalamus yang memunculkan nafsu. Hipotalamus akan mengeluarkan hormonal seperti hipofisis yang dibutuhkan untuk mengumpulkan adrenal dan menghasilkan adrenalin. Adrenalin akan membuat detak jantung semakin cepat meningkatkan oksigen dalam darah dan mengubah cadangan menjadi energi.

Dalam waktu cepat, otak akan memutuskan melakukan tindakan dengan probabilitas tertinggi untuk menyelamatkan dirinya dari persyaratan mendukung. Tindakan ini, salah satu di antaranya bisa berupa tindak kekerasan karena tantangan ini yang bisa melindunginya dari bahaya. Proses ini banyak dilakukan oleh cara kerja otak manusia purba. Oleh karena itu, untuk mencegah terjadi keterlambatan, manusia harus juga mengaktifkan otak untuk mengimbangi cara kerja otak kuno yang begitu cepat mengatasi dialog.