Mencicipi Makanan Khas Jawa Nasi Gegok, Perpaduan Nasi Panas, Sambal Pedas dan Ikan Teri

by -1,996 views
Mencicipi Makanan Khas Jawa Nasi Gegok, Perpaduan Nasi Panas, Sambal Pedas dan Ikan Teri

Beritadalam.com – , Mencicipi Makanan Khas Jawa Nasi Gegok, Perpaduan Nasi Panas, Sambal Pedas dan Ikan Teri

Indonesia kaya akan kulinernya, termasuk makanan khas Jawa yang juga beragam dan tentu saja lezat rasanya.

Salah satu makanan khas Jawa yang terbilang unik dan sederhana bernama nasi gegok.

Nasi gegok adalah makanan khas Jawa tepatnya makanan khas Kabupaten Trenggalek.

Kepul sedap aroma nasi panas langsung menggoda hidung ketika bungkus daun pisang disingkap.

Aroma khas yang susah ditemui saat makan di depot atau restoran.

Begitu kesan pertama yang muncul ketika mencicip nasi gegok.

Salah satu penjual makanan legendaris ini ada di Desa Srabah, Kecamatan Bandungan.

Namanya Warung Sego Gegok Mbah Tumirah.

Lokasinya tepat berada di jalan utama Trenggalek-Bendungan.

Jaraknya dari pusat Kabupaten Trenggalek sekitar 8 kilometer (km).

Nasi gegok berisi nasi, sambal pedas, dan ikan teri. Cuma itu. Sesederhana penampilan luarnya.

Sebagai pelengkap lauk, warung tersebut menyertakan beberapa tempe goreng tepung.

Bagi lidah mereka yang tak doyan cabai, sambal di nasi gegok Mbah Tumirah cukup membuat kepedasan.

Sayangnya, tak ada pilihan level seperti di menu makanan pedas masa kini.

Sambal ini dibuat dengan resep dasar: ada cabai, bawang merah, bawang putih, gula, garam, dan sejenisnya.

Di warung Mbah Tuminah, sambal dimasak bersama ikan teri dalam wajan besar sekaligus.

Lauk yang minim tak membuat nasi ini membosankan.

Aroma yang khas dari bungkus daun pisang membuatnya tetap enak disantap dengan menu apa adanya.

Saat disuguhkan, nasi gegok selalu dalam keadaan panas.

Nasi baru diambil dari dandang besar di dapur sebelum dibawa ke meja pembeli.

Konon, nasi gegok merupakan menu yang biasa dibawa orang gunung ketika perjalanan jauh di zaman dulu.

Mbah Tumirah sudah puluhan tahun berjualan di tempat itu.

“Lupa tepatnya. Saat saya masih belum menikah dulu,” kata Mbah Tumirah. Saat ini, usainya di atas 70 tahun.

Mbah Tumirah hanya menjual nasi gegok, dan sedikit camilan.

Di sisi luar warung, ada empat meja panjang yang biasa dipakai tempat makan para pelanggan.

Sementara bagian dalam berfungsi hanya sebagai dapur.

Secara umum, warung ini hanya cukup untuk menampung orang makan sekitar 20-an orang.

Harga nasi gegok pun semurah penampilannya.

Di warung Mbah Tumirah, empat bungkus nasi gegok plus tempe, dua es teh, dan satu air mineral ukuran tanggung dipatok seharga Rp 30.000.

“Sehari bisa bikin sekitar 100 bungkus nasi gogok,” kata dia.

100 bungkus nasi gegok artinya 50 porsi makan.

Sebab apabila pembeli memesan satu porsi, yang keluar adalah dua bungkus nasi gegok. Lengkap dengan tempe goreng bumbu.

Bagi orang kebanyakan yang datang dengan perut kosong, dua porsi nasi gegok memang pas.

Tapi, bagi mereka yang sekadar ingin memanjakan lidah, dua porsi terlalu banyak.

Bagi saya, satu porsi nasi gegok rasanya kurang. Tapi, dua porsi terlalu mengenyangkan.

Lalu, seberapa pas porsi nasi gegok di perut kamu? Silakan coba untuk mengetahuinya.