Korban Best Profit Menjerit, Fifi Ingin Keadilan Hukum

by -1,148 views
Korban Best Profit Menjerit, Fifi Ingin Keadilan Hukum
Korban Best Profit Menjerit, Fifi Ingin Keadilan Hukum

 

Pontianak , beritadalam.com – Fifi Rinda, gadis cantik muda nan menawan, tidak bisa menahan tangis, saat memulai cerita kepada Suara Pemred. Ia adalah korban penipuan perusahaan, yang menetapkan bisnisnya dengan spesifikasi layanan transaksi Sistem Perdagangan Alternatif Bursa Berjangka, yaitu PT Best Profit Futures (BPF) Cabang Pontianak.

Cerita berawal dari dua tahun lalu, saat ia bersama ibunya berangkat dari Pontianak ke negara Taiwan menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI). Saat itu, Fifi masih berusia cukup belia. Namun, namanya bekerja tak memandang usia.

Dua tahun lamanya, setidaknya tiga kali dia dan ibunya berganti profesi. Dari pelayan restoran, berubah tukang salon hingga menjadi buruh harian sebuah pabrik besi. Saat di restoran, ia jadi pelayan, tukang antar-antar makanan. Gajinya sekitar Rp8 jutaan.

“Tak lama saya kerja salon, karena kerja di Taiwan bukan hal yang mudah. Setelah itu berhenti lagi kerja di pabrik besi, kerjaannya ya kayak laki-laki gitu. Ngelas besi, namun semuanya habis karena ditipu Best Profit,” ungkapnya saat mendatangi kantor Suara Pemred untuk kedua kalinya, Selasa (18/2) malam WIB.

Pada pekerjaan yang disebut terakhir itu, ia digaji sebesar Rp15 juta per bulan. Tapi hidup di negara yang terkenal dengan sebutan Ilha Formosa (Pulau yang Indah), pendapatan sebanyak itu terbilang sangat kecil. Kata dia kebutuhan hidup di sana sangat tinggi, misalnya saja untuk tempat tinggal ia dan ibunya harus menyewa apartemen yang harganya per bulan hampir setengah dari gaji.

Namun begitu, setiap bulan ia tetap menyisihkan sebagian gajinya untuk ditabung oleh ayahnya yang tinggal di Pontianak. Dua tahun bekerja, selama itu juga tabungannya sudah mencapai Rp350 juta.

Tapi sayang, tabungan itu justru raib, akibat ulah marketing PT BPF Cabang Pontianak. Ia ditipu dengan modus deposito dan dijanjikan akan mendapatkan keuntungan per hari bisa mencapai Rp1 juta bahkan dalam sebulan bisa mencapai Rp7-8 juta.

Padahal yang terjadi, uang tersebut diinvestasikan ke perusahan penyedia layanan transaksi perdagangan alternatif di bursa berjangka komoditi. “Karena diiming-imingi dengan Rep1 juta per hari, siapa yang tidak mau,” katanya.

Melalui ayahnya, Jisong, sebetulnya kasus ini sudah dilaporkkan ke Polda Kalbar sejak Juli 2019 lalu. Namun hingga hari ini, proses laporan itu stagnan. Persiapan gelar perkara selalu menjadi alasan namun tak pernah membuahkan perkembangan.

Muhammad Merza Berliandy, kuasa hukum Jisong mempertanyakan sikap dari Polda Kalbar atas lambannya tindak lanjut kasus tersebut. Padahal, menurut dia kasus ini banyak terindikasi dugaan pelanggaran. Terutama pada proses penawaran oleh marketing BPF cabang Pontianak kepada Fifi melalui instagram dan proses pendampingan terhadap Jisong yang tidak paham dengan investasi ini.

“Maksud saya ini masuk unsur 378. Mengiming-imingi dan menjanjikan untuk memperkaya diri namun yang saya bingung ketika laporan ini saya laporkan ke Krimsus tapi sampai hari ini kita tidak tahu perkembangannnya bagaimana,” kata Merza Berliandy.

Dia mengakui, jika mengacu pada peraturan internal PT BPF dan aturan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappeti), proses administrasi pendaftaran nasabah sudah dilakukan sesuai prosedur yang ada. “Itu hanya secara kasat mata,” paparnya.

Namun pada pengerjaannya, marketing PT BPF Cabang Pontianak, menipu karena tidak jujur kepada nasabah bahwa uang itu akan diinvestasikan. Selain pelaporan ke Polda Kalbar, Merza juga mengupayakan penyelesaian masalah ini hingga mediasi ke Bursa Berjangka di Jakarta.

“Mediasi ini dihadiri semua pihak, mulai korban, Marketing BPF Cabang Pontianak, Kepala Cabang PT BPF Pontianak, Kepala dan Direksi Kepatuhan PT BPF.

Mediasi digelar Desember 2019. Meski sempat bersitengang dengan adu argument namun pertemuan itu tidak menghasilkan solusi apapun, justru dia menilai ada keberpihakan Bursa Berjangka terhadap PT BPF, karena bagian dari Bursa Berjangka tersebut.

Upaya mencari keadilan bagi Fifi dan Jisong tak sampai di situ. Merza kemudian melaporkan kasus ini ke Bappeti. Hasilnya, Bappeti akan menindaklanjuti permasalahan ini dengan syarat dari Bursa Berjangka sudah mengeluarkan hasil penyelidikan.

Selain itu, ketika hasil penyelidikan ini sudah keluar, Bappeti juga memperbolehkan agar pihak korban untuk melakukan gugatan terhadap PT BPF Cabang Pontianak ke Pengadilan. Kata Merza, sebetulnya gugatan ini bisa saja dilakukan, namun di dalam surat perjanjian antara pihak PT BPF cabang Pontianak dan korban, gugatan hanya bisa dilakukan ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta.

“Hal ini tentu menambah kejanggalan bisnis PT BPF sendiri. Pasalnya, perjanjian itu semestinya dibuat pada PN Pontianak, karena lokus tempusnya di Pontianak,” tuturnya.

“Jadi kita bingung apakah melakukan gugatan di Jakarta Selatan atau di Pontianak. Padahal lokus tempusnyakan di Pontianak. Kenapa saat mengisi form perjanjian ini, marketingnya (BPF) memilih di Jaksel. Padahal seharusnya di Pontianak, terlebih saat mengisi itukan Jisong sendiri tidak paham,” lanjut Merza.

Korban lain dari praktek bisnis tipu-tipu PT Best Profit Futures (BPF) Cabang Pontianak adalah Syafari. Ia merupakan nasabah yang menjadi target dari PT BPF. Bahkan saat ia harus menyetorkan uang depositnya, Syapari dibawa oleh Sales Marketing BPF ke bank atau ATM.

“Abang saya masuk saat dalam keadaan sakit, struk. Waktu menyetor sekitar Rp100 juta, kemudian ketika sakit dan akan mengambik dananya, ternyata sudah kosong. Kejadian tersebut skeitar tahun 2018,” kata Bang Ari, adik ipang Syapari.

Dengan kejadian tersebut, Ari bersama keluarga belum pernah mengambil langkah-langkah hukum, karena ia sendiri masih dalam kedaan sakit. Ia hanya berharap, kalau ternyata banyak korban dari bisnis culas PT BPF, maka seharusnya penegak hukum bisa mengaambil sikap.

Selesai usai Mediasi 

Pimpinan PT BPF Cabang Kota Pontianak, Didi Darmansyah mengatakan, persoalan dengan nasabah bernama Fifi Rinda pada dasarnya telah berakhir setelah keluarnya surat hasil penanganan aduan dari PT Bursa Berjangka atas nama nasabah PT BPF bernama Jie Song.

“Hasil mediasi dan udah keluar surat resmi dari Bursa Berjangka Jakarta. Itu udah diperiksa dan di investigasi dari bursa dan hasilnya sesuai dengan peraturan,” kata Didi seraya menunjukan surat dari PT Bursa Berjangka Jakarta, Kamis (19/2).

Menurut Didi, saat proses mediasi antara PT BPF dengan Jie Song dan kuasa hukumnya di Jakarta, ia tidak ikut hadir di sana. “Saya tidak hadir, yang hadir staff saya,” ungkap Didi.

Inti dari hasil investigasi yang dilakukan PT Bursa Berjangka Jakarta menyebutkan bahwa PT BPF telah menjalankan prosedur penerimaan nasabah hingga pelaporan transaksi nasabah sesuai dengan peraturan perundang undangan yang berlaku.

Didi mengingatkan kepada masyarakat Kalbar, khususnya nasabah PT BPF untuk tahu dan mengerti sebelum memutuskan untuk berinvestasi. Ia menyarankan nasabah untuk bertransaksi sendiri, karena sistem platform yang dimiliki PT BPF sudah mendukung nasabah melakukan transaksi dengan mudah dan user friendly.

Semua nasabah juga telah disediakan konsultan berpengalaman untuk mengedukasi nasabah agar dapat menggunakan dan mengerti sistem jual beli.

“Kami juga harap nasabah selalu menjaga kerahasiaan user id dan password untuk akses transaksi dan jangan diberikan kepada siapapun,” pintanya. 

 

Tertipu Rp300 Juta

 

KETUA Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Hanura Kabupaten Landak, Candra juga mengaku juga tertipu hingga Rp300 juta, saat berinvestasi di PT BPF. Candra menjadi nasabah kesekian, yang tertipu investasi palsu ini.

Menurut Candra, ia dan istrinya, tergiur Best Profit dengan memasukkan dana masing-masing Rp100 juta dan kemudian top up Rp100 juta lagi. Hingga total dana yang diserahkan Rp300 juta. Namun dalam waktu dua bulan dana tersebut habis.

“Saya sempat mendapatkan profit Rp25-30 juta. Alasannya harga emas turun,” kata Candra saat dihubungi Suara Pemred, Selasa (18/2).

Candra menuturkan, awalnya Best Profit menjanjikan keuntungan persatu poin, dengan angka Rp1,4 juta. Jika mendapatkan lima poin, maka akan mendapatkan hampir Rp6 juta. Hal tersebut tergantung dari pembelian nasabah pe rhari.

“Minimal pembelian Rp20 juta, maka dua poin per hari. Jika naik satu digit, bisa mendapatkan Rp2,8 juta rupiah per hari,” paparnya.

Apabila dalam sehari diambil empat-lima poin, namun menurut Best Profit, harga emas selalu turun, hingga dana yang disimpan menjadi habis. Demikian pula usai top up dua minggu, dana tersebut habis lagi.

Menurut Candra, Best Profit selalu beralasan harga emas turun. Namun ketika pembelian harga di bawah dan di atas, juga tidak bisa mengimbangi. Sehingga dalam jangka waktu tidak mencapai dua bulan, dana Rp300 juta yang disetorkannya habis.

“Dari total dana yang disetorkan, saya hanya mendapatkan Rp30 juta saja,” tuturnya.

Candra menyampaikan awalnya Best Profit mengatakan, setelah mendaftar dan masuk sebagai nasabah, dana tersebut bisa ditarik. Seandainya dengan total setor Rp100 juta, main dua poin senilai Rp2 juta, maka sisa dana Rp80 juta bisa ditarik nasabah.

“Namun hal tersebut tidak bisa dilakukan, karena masih dalam berjalannya penjualan dan pembelian. Hingga dana tersebut tidak bisa ditarik. Awalnya, mereka mengatakan dana sisa tersebut bisa ditarik, namun setelah ikut tidak bisa,” katanya.

Ia menjelaskan, ada kesepakatan tertulis antara dirinya dan Best Profit. Namun, karena yang bermain adalah sistem tidak bisa diprediksi. Sejauh ini dirinya mengatakan masih belum membuat laporan ke pihak kepolisian. Ia  berharap tindak lanjut kasus yang dilaporkan ke Polda Kalbar bisa berjalan.

“Sehingga bisa menjawab masalah yang menimpa nasabah Best Profit. Semua ini bisa saja adalah pembodohan publik, siapa yang masuk ke situ tidak ada yang sukses,” pungkasnya. (din/mul)

Berawal Komunikasi di Instagram

DUGAAN penipuan bermodus deposito ini berawal dari percakapan antara Fifi dengan marketing PT BPF, Hansen Vendi Agus di Intagram pada Januari 2018. Dalam percakapan itu, Fifi ditawarkan oleh Hansen untuk mendepositokan uangnya ke perusahan penyedia layanan transaksi perdagangan alternatif di bursa berjangka komoditi dengan jumlah minimal Rp100 juta.

Dengan uang sebesar itu, keuntungan yang akan didapatkan Fifi per hari dijanjikan bisa mencapai Rp1 juta per hari, bahkan dalam sebulan keuntungan bisa mencapai Rp8 juta. Fifi yang saat itu bekerja di Taiwan tertarik dan kemudian mengarahkan Hansen untuk berkomunikasi langsung dengan bapaknya, Jie Song di Pontianak.

“Jadi saya ditawarin dia (Hansen), mending uang kamu diinvestasikan saja di BPF, keuntungannya bisa satu juta satu hari dan tidak ada kerugian (jika dideposito),” tirunya ucapan Hansen saat itu.

Fifi kemudian menghubungi bapaknya untuk menyiapkan uang tersebut. Uang itu adalah hasil jerih payah Fifi yang dikirim ke rekening Jie Song sebagai tabungan.

Beberapa hari kemudian, Hansen dan marketing lain, bernama Rio Alexander mendatangi rumah Fifi di Pontianak. Di rumah ini keduanya bertemu dengan Jie Song dan meminta agar membuka rekening baru di sebuah bank dan langsung menyetor uang tersebut.

Jie Song yang tidak paham sama sekali hanya bisa mengikuti perintah dua orang marketing itu. “Mereka (Rio dan Hansen), bilang bahwa ini hanya deposito yang bisa mencapai keuntungan Rp7-8 juta per bulan,” kata Jie Song.

Setelah menyetor uang tersebut ke bank, Jie Song kemudian diajak dua marketing tersebut ke kantor PT BPF di komplek Mega Mall, untuk menyelesaikan syarat administrasi. Di kantor PT BPF ini, Jie Song juga dipertemukan dengan Wakil Pialang PT BPF Cabang Pontianak, Welly.

“Dia menjelaskan kepada saya soal jual beli, tapi saya mengakui hari itu saya tidak paham,” ujarnya.

Namun investasi tetap dimulai sejak saat itu. Selang tiga hari kemudian, dua orang marketing ini kembali mendatangi Jie Song di rumah unutk menyerahkan sertifikat yang harus dipegang nasabah. Beberapa bulan kemudian, ketika Fifi kembali ke Pontianak, Jie Song menanyakan nasib uang tersebut kepada Fifi.

Kala itu Fifi mengatakan bahwa Hansen kerap menghubunginya melalui pesan Instagram bahwa uang yang didepositokannya mendapatkan keuntungan. “Saya hanya dibilang dapat untung dari Instagram itu saja, saya percaya saja,” ungkap Fifi.

Merasa curiga, akhirnya Jie Song bersama Fifi mendatangi kantor PT BPF untuk mengecek uang tersebut. Namun kenyataannya uang itu sudah habis dan dijanjikan akan kembali jika Jie Song mau mendepositokan kembali sebanyak Rp100 juta.

Penambahan uang itu bukan hanya sekali, namun hingga mencapai total Rp350 juta. Dan seluruhnya berkurang hanya menyisakan kurang lebih Rp25 juta di dalam rekening tersebut.

“Saya bilang sama Rio, mau ketemu pimpinannya. Saya dipersilahkan. Tapi justru bukan kepalanya (yang ditemui), saya tidak tahu namanya, yang jelas dia bukan pimpinannya. Saya minta ketemu pimpinanya lagi, kata dia pak Pepen (kepala cabang PT. BPF) tidak ada di tempat, lagi cuti lebaran,” kata Jie Song menirukan ucapan itu.

Namun selang dua menit, justru kepala cabang PT. BPF keluar. “Saya kecewa ada kebohongan.” tegasnya. Hingga kini, uang tersebut belum juga kembali. “Katanya kalau tidak bisa nambah lagi ya terpaksalah tinggal segitu, sisa sedikit,” katanya Fifi.

Jisong, ayah Fifi berharap permasalahan ini dapat ditindak lanjuti oleh Polda Kalbar. Apalagi kata dia, saat ini kepemimpinan Kapolda sudah beralih ke pemimpin yang baru, dirinya berharap Polda dapat memberikan keadilan terhadap keluarganya.

“Saya berharap kepada Kapolda baru untuk dapat beri kami keadilan yang seadil-adilnya. Karena kami merasa dirugikan oleh PT. BPF ini dan sekarang prosesnya sudah sangat lama (di Polda) tapi kenapa tidak ditindak lanjuti,” ungkapnya.