Jurnalis WNI yang Tertembak di Hong Kong Disebut Bisa Buta Permanen

by -1,161 views

 

Jakarta – Jurnalis Indonesia, Veby Mega Indah, yang terkena tembakan peluru karet di dekat matanya ketika meliput di Hong Kong disebut bisa mengalami kebutaan permanen. Kuasa hukum Veby Indah, Michael Vidler, mengatakan pupil mata kliennya rusak.

“Dia diberi tahu (dokter) bahwa pupil matanya pecah akibat tembakan. Persentase pasti dari kerusakan permanen hanya dapat dinilai setelah operasi, ” kata Vidler seperti dikutip media lokal South China Morning Post (SCMP), Rabu (2/10/2019).

Vidler mengatakan, keluarga Veby saat ini sudah berada di Hong Kong untuk mendampingi proses medis. Pihak keluarga disebut menemani Veby di samping tempat tidur perawatannya.

“Kami juga dapat mengkonfirmasi bahwa kami telah menerima bukti dari pihak ketiga, yang menunjukkan bahwa proyektil yang membutakan Veby adalah peluru karet dan bukan beanbag round seperti yang diperkirakan semula,” tutur Vidler.

Sebelumnya, insiden itu terjadi pada Minggu (29/9). Veby yang sedang berada di tengah-tengah kericuhan di Hong Kong terkena tembakan di dekat mata kanannya.

Veby kini tengah menjalani perawatan medis di Pamela Youde Nethersole Eastern Hospital di Chai Wan, Hong Kong. KJRI Hong Kong menyebut Veby dirawat dalam keadaan sadar. Pihak KJRI terus melakukan pendampingan dan bantuan terhadapnya.

Dalam wawancara eksklusif kepada SCMP, Veby menyebut mata kanannya terluka akibat sebuah proyektil dan dia harus mendapatkan tiga jahitan di dekat alis. Menurut SCMP, belum diketahui pasti apakah Veby terkena peluru karet atau beanbag round yang berisi butiran mirip gotri. SCMP menyebut bagian dahi dan mata kanan Veby masih tampak bengkak. Veby mengeluhkan rasa sakit amat sangat dan pusing.

Di Hong Kong, Veby diketahui bekerja sebagai associate editor pada Suara Hong Kong News, sebuah media lokal yang banyak dibaca para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Hong Kong.

Vidler menuduh polisi Hong Kong melepas tembakan dari sudut rendah dan jarak mematikan, yakni 12 meter. Vidler menegaskan bahwa Kepolisian Hong Kong harus bertanggung jawab atas luka-luka yang dialami kliennya, yang jelas-jelas saat kejadian teridentifikasi sebagai ‘PERS’ dan tidak memberikan ancaman kepada polisi.

“Proyektil ini ditembakkan dari jarak mematikan dan sudut rendah di mana dampaknya pasti terjadi pada tubuh bagian atas atau kepala. Ini jelas merupakan pelanggaran terhadap panduan yang dirilis pabrikan senjata tersebut, terhadap instruksi profesional apapun dan norma internasional,” tegas Vidler.