Bisakah Babi dari Indonesia Berenang 62 Km di Selat Malaka?malaysia boleh

by -1,269 views
Bisakah Babi dari Indonesia Berenang 62 Km di Selat Malaka?malaysia boleh
Bisakah Babi dari Indonesia Berenang 62 Km di Selat Malaka?malaysia boleh

Jakarta – Otoritas Malaka di Malaysia mengklaim ada invasi babi hutan dari Indonesia yang masuk ke wilayahnya melalui perairan Selat Malaka. Para babi hutan ini diduga berenang melewati Selat Malaka yang dikenal sebagai salah satu selat tersibuk di dunia.

Bila benar terjadi, itu semacam ‘impossible mission’ karena rute invasi pasukan babi Indonesia ini bakal sangat berat.

Dihimpun dari berbagai sumber, Jumat (6/9/2019), detikcom merangkum informasi soal kondisi Selat Malaka yang merupakan salah satu selat tersibuk di dunia.

Kesibukan Selat Malaka

Menurut informasi yang tercantum di laman resmi Kementerian Perhubungan, Selat Malaka merupakan pusat lalu lintas kapal internasional yang dimiliki oleh lintas tiga negara yang menaunginya, yakni Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Lalu lintas ini berdasarkan kesepakatan tiga negara.

Sementara itu, data 2018 Departemen Perhubungan dari rekaman Vessel Traffic Information System (VTIS) khusus di Selat Malaka menyebutkan setidaknya terjadi 650 call (kapal yang masuk) per hari dengan ukuran besar kapal mencapai 300.000 gross ton.

Berdasarkan skema Straitrep (sistem pelaporan perkapalan), jumlah total kapal yang melintas pada 2018 di lokasi ini sebanyak 85.030 unit (Eastbound dan Westbound TSS). Wilayah Indonesia yang terletak di Selat Malaka dan Selat Singapura sebagian besar berada pada Eastbound side, sehingga jumlah kapal yang melewati wilayah Indonesia di TSS sekitar 42.000 kapal/tahun.

Predikat selat tersibuk ini juga bisa dilihat dari data Energy Information Administration, AS (EIA). Menurut data tersebut, hampir sepertiga dari 61% dari total minyak bumi global dan produksi cairan lainnya yang bergerak pada rute maritim pada 2015 transit di Selat Malaka.

Dengan ini, Selat Malaka adalah titik perdagangan minyak terbesar kedua di dunia setelah Selat Hormuz. Minyak bumi dan cairan lain yang transit di Selat Malaka meningkat keempat kalinya dalam lima tahun terakhir pada 2016, mencapai 16 juta barel per hari.

Jarak Selat Malaka

Kembali ke isu babi hutan yang kabarnya berangkat dari Indonesia dan menyeberang ke Melaka Malaysia, bila itu benar, berarti jarak yang ditempuh babi itu lumayan jauh. Jarak terdekat antara Pulau Besar, Malaysia, dan kawasan terdekat Indonesia, yakni Pulau Rupat, Sumatera, sekitar 62,59 km dilihat dari GoogleMaps.

Babi Hutan Bisa Berenang?

Babi diketahui memang pandai berenang. Merujuk pada tulisan ‘The feasibility of reintroducing Wild Boar (Sus scrofa) to Scotland’ yang ditulis oleh R. Leaper dkk, babi hutan dapat berenang dengan sangat baik, umumnya mampu menyeberangi sungai dan danau.

Sementara itu, melansir pemberitaan BBC pada 2013, pernah ada babi hutan yang dilaporkan berenang sejauh 7 mil atau 11,2 km dari Prancis ke Alderney di Kepulauan Channel.
Kekuatan Arus Selat Malaka

Dalam tulisan berjudul ‘Karakteristik Oseanografi Fisika Perairan Estuaria Bengkalis Berdasarkan Data Pengukuran In-Situ’ karya Khairul Amri dkk, disebutkan bahwa pergerakan arus di wilayah Selat Malaka didominasi arus pasut (arus pasang-surut) dengan kecepatan arus permukaan rata-rata 0,07-1,19 m/detik.

Mampukah babi-babi Indonesia itu berenang melintasi salah satu selat tersibuk di dunia? Bukan hanya sibuk, Selat Malaka juga berarus kencang. Dugaan bahwa babi itu berasal dari Indonesia dinyatakan oleh Ketua Komisi Pertanian, Berbasis Agro, Pembangunan Kewirausahaan dan Koperasi Malaka, Norhizam Hassan Baktee.

Namun Norhizam tak menyebut spesifik dari mana asal babi Indonesia yang dia maksud itu, apakah dari Pulau Rupat atau pulau lain. Namun yang jelas, Pulau Rupat adalah pulau terdekat dari wilayah Indonesia ke Pulau Besar, Malaysia. Semakin jauh jaraknya, kian kecil peluang babi-babi itu menyeberang lautan.

Namun dugaan invasi oleh babi hutan Indonesia disangsikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Indonesia. Pasalnya, KLHK menilai jarak tempuh yang diseberangi babi hutan terlampau jauh.

“Intinya mereka bisa, migrasi dan menyeberang mereka bisa. Cuma dipertanyakan 17 km-nya saat menyeberangi Selat Malaka,” kata peneliti Litbang KLHK, Dr Titiek Setyowati, saat dihubungi, Kamis (5/9/2019). Jarak antara Pulau Rupat ke Pulau Besar bukan 17 km saja, tapi juga lebih dari 60 km.

 

EDITOR : MR KOCAK 
PENULIS : KELUARGA BABI YANG TERANIAYA